Rabu, 26 Februari 2014

TUGAS KELOMPOK



Nama Kelompok :  Ria Widya Ningsih (116210037)

                               Sesti Ardina (116211702)


  1.  1. JUDUL :    ANALISIS MAKNA DAN SYIRIK DALAM MANTRA
                         PENGOBATAN DESA PANGKALAN BARU KECAMATAN SIAK 

                         HULU

  1.  2. LATAR BELAKANG
Mantra adalah sebagai sastra lisan yang berbentuk puisi bebas yang memiliki kekuatan gaib. Mantra kaya akan makna, di antaranya yaitu makna leksikal, makna gramatikal, dan makna kontekstual. Makna tersebut saling berkaitan untuk menelaah jenis makna dan syirik dalam suatu mantra. Keunikan dari mantra yaitu penggunaan kata, baik berbentuk reduplikasi maupun tidak. Penggunaan kata di dalam mantra juga harus sesuai dengan konteksnya. Dengan adanya makna gramtikal maka semakin memperjelas tujuan dari penggunaan mantra yang mengarah pada perbuatan syirik.
Jenis syirik dalam mantra pengobatan Desa Pangkalan Baru Kecamatan Siak Hulu kabupaten Kampar dapat dilihat dari contoh berikut, yaitu dalam mantra Obat Palosik. Awal pembacaan mantra menggunakan Basmallah, pembacaan Basmallah di setiap aktifitas adalah perbuatan terpuji, karena setiap ayat Al-Qur’an pun diawali dengan Basmallah. Namun, apabila kata Basmallah tersebut digunakan untuk memulai pemujaan terhadap makhluk gaib dan diikuti dengan kata yang tidak dipahami, maka hal tersebut termasuk pada syirik besar. Seperti mantra berikut:
Bismillahirrohmanirrrahiim
Sibiasau namo mamak engkau
            Simanyolai namo bapak engkau
Ughibali katuban dagha
            Meambulah engkau sebaliak bukik iko
Engkau yang menggosok kain kociak amak engkau
Mangkubuo aku manulak antu palosik
Dalam batang tubuh anak sidang manusio
Gughu mangkobuo dek aku pun tajam
Tajam barokat laillahaillahu.

          Masyarakat Desa Pangkalan Baru Kecamatan Siak Hulu Kabupaten Kampar merupakan suatu desa yang masih mempercayai bahwa keampuhan mantra yang dibacakan oleh dukun. Menurut masyarakat di Desa Pangkalan Baru, mantra menjadi bagian dari kehidupan mereka untuk tetap menjaga tradisi nenek moyang, karena setiap yang ingin dilakukan selalu menggunakan mantra terutama dalam kegiatan pengobatan. Masyarakat percaya bahwa mantra dapat mengobati berbagai macam penyakit, bahkan penyakit yang tidak dapat dideteksi oleh medis atau dokter. .
          Jalil dan Rahman (2001:1) mengatakan:
Mantra merupakan sastra lisan. Sastra lisan adalah susastra yang perkembangannya secara lisan atau dari mulut ke mulut. Sastra lisan ini di nusantara yang paling awal dikenal dan dikembangkan oleh masyarakat tradisional, sebagai pakar lain menyebutnya dengan sastra rakyat.
Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat baik secara teoretis maupun praktis. Secara teoretis untuk memahami tentang makna dan dan Syirik Dalam Mantra Pengobatan Desa Pangkalan Baru Kecamatan Siak Hulu. Secara praktis hasil penelitian ini bermanfaat sebagai bahan bacaan untuk seluruh pembaca bagi penulis.

3.    Masalah
        Berdasarkan uraian dari latar belakang, maka dapat dirumuskan masalah dalam penelitian ini yaitu:
1. Apa sajakah makna leksikal yang terdapat dalam Mantra Pengobatan Desa Pangkalan Baru Kecamatan Siak Hulu Kabupaten Kampar?
2. Apa sajakah makna gramatikal yang terdapat dalam Mantra Pengobatan Desa Pangkalan Baru Kecamatan Siak Hulu Kabupaten Kampar?
3.   Apa sajakah makna kontekstual yang terdapat dalam Mantra Pengobatan Desa Pangkalan Baru Kecamatan Siak Hulu Kabupaten Kampar?
4.  Bagaimanakah unsur syirik yang terdapat dalam Mantra Pengobatan Desa Pangkalan Baru Kecamatan Siak Hulu Kabupaten Kampar?

  1.  4. Tujuan
Secara umum tujuan penelitian adalah untuk memperoleh data tentang makna dan syirik yang terdapat dalam Mantra Pengobatan Desa Pangkalan Baru Kecamatan Siak Hulu Kabupaten Kampar. Tujuan penelitian ini secara khusus yaitu:
1. Untuk mendeskripsikan dan menganalisis makna leksikal dalam Mantra Pengobatan DesaPangkalan Baru Kecamatan Siak Hulu Kabupaten Kampar.
2.  Untuk mendeskripsikan dan menganalisis makna gramatikal dalam Mantra Pengobatan Desa Pangkalan Baru Kecamatan Siak Hulu Kabupaten Kampar.
3.  Untuk mendeskripsikan dan menganalisis makna kontekstual dalam Mantra Pengobatan Desa Pangkalan Baru Kecamatan Siak Hulu Kabupaten Kampar.
4.  Untuk mendeskripsikan dan menganalisis unsur syirik dalam Mantra Pengobatan Desa Pangkalan Baru Kecamatan Siak Hulu Kabupaten Kampar.

  5.     Teknik Pengumpulan Data dan Analisis Data
a.         Teknik pengumpulan data
                       Teknik yang penulis gunakan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:
1.  Teknik Observasi yaitu melakukan pengamatan secara langsung ke objek penelitian Mantra Pengobatan Desa Pangkalan Baru Kecamatan Siak Hulu Kabupaten Kampar yang dilakukan pada tanggal 18 Maret 2013;
2.   Teknik wawancara yaitu dengan melakukan tanya jawab kepada narasumber yaitu tiga orang dukun di Desa Pangkalan Baru Kecamatan Siak Hulu Kabupaten Kampar guna mengetahui mantra pengobatan dan untuk menganalisisnya;
3.   Teknik rekaman yaitu dilakukan untuk mendapatkan mantra pengobatan secara utuh kepada dukun yang membaca mantra.

    1.      Teknik Analisis Data
Setelah data mantra dikumpulkan, kemudian dianalisis sebagai berikut:
1.  Mentranskripsikan data Mantra Pengobatan Desa Pangkalan Baru Kecamatan Siak Hulu Kabupaten Kampar dari bahasa lisan ke bahasa tulisan untuk mempermudah dalam pengolahan data;
2.   Mengalihbahasakan dari bahasa daerah ke bahasa Indonesia;
3.  Mengelompokkan data Mantra Pengobatan Desa Pangkalan Baru Kecamatan Siak Hulu Kabupaten Kampar berdasarkan masalah yang diteliti;
4.  Mendeskripsikan dan menganalisis data mantra yang telah dikelompokkan sesuai dengan teori yang relevan;
5.   Menyimpulkan hasil analisis Mantra Pengobatan Desa Pangkalan Baru Kecamatan Siak Hulu Kabupaten Kampar;
6.    Membuat laporan atau hasil penelitian sesuai dengan masalah yang diteliti.

6.  Analisis Data
1.      Analisis Makna Leksikal dalam Mantra Pengobatan Desa Pangkalan Baru Kecamatan Siak Hulu Kabupaten Kampar.
Makna leksikal yaitu makna yang sebenarnya atau makna yang terdapat dalam kamus. Suwandi (2008: 68) mengatakan, “Makna Leksikal adalah makna leksem ketika leksem tersebut berdiri sendiri, baik dalam bentuk dasar maupun bentuk derivasi dan maknanya kurang lebih tetap seperti yang terdapat dalam kamus”. Salah satu kata yang terdapat dalam Mantra Pengobatan Desa Pangkalan Baru Kecamatan Siak Hulu Kabupaten Kampar adalah “pucuk”. Kata pucuk merupakan kata yang termasuk pada makna leksikal karena kata pucuk dapat berdiri sendiri. Kata pucuk ini terdapat pada mantra ubek tekekolu baris kedua dalam kalimat tuku setakal pucuk amo-amo. Adapun makna dari kata pucuk adalah daun muda (di puncak pohon atau di ujung ranting) (Depdiknas, 2008: 1111). Namun, dalam mantra ubek tekekolu, kata pucuk dimaksudkan kepada pucuk amo-amo yang membuat si penyakit menjadi sakit.
2.   Analisis Makna Gramatikal dalam Mantra Pengobatan Desa Pangkalan Baru Kecamatan Siak Hulu Kabupaten Kampar.
Makna gramatikal merupakan makna yang muncul sebagai hasil proses makna gramatikal, seperti afiksasi. Misalnya, kata presiden dibubuhi konfiks ke-an menjadi kepresidenan yang menyatakan makna ‘tempat’. Makna gramatikal muncul dari berfungsinya sebuah kata dalam kalimat. Suwandi (2008: 69) mengatakan, “Makna gramatikal adalah makna yang muncul sebagai akibat befungsinya sebuah leksem di dalam kalimat”.
Salah satu kata yang terdapat dalam Mantra Pengobatan Desa Pangkalan Baru Kecamatan Siak Hulu Kabupaten Kampar adalah “amo-amo”. Kata amo-amo merupakan bentuk reduplikasi. Makna dari kata amo-amo yaitu sejenis kupu-kupu yang meninggalkan virus atau debu yang disebut amo-amo dan dapat mendatangkan penyakit bagi seseorang. Kata amo-amo tersebut dapat ditemukan pada mantra ubek takekolu baris kedua dalam kalimat tuku setakal pucuk amo-amo. Makna gramtikal amo-amo pada mantra tersebut ialah sejenis debu atau virus yang dibawa oleh kupu-kupu yang dapat mendatangkan penyakit bagi seseorang.
3.    Analisis Makna kontekstual dalam Mantra Pengobatan Desa Pangkalan Baru Kecamatan Siak Hulu Kabupaten Kampar.
Makna kontekstual yaitu makna kata yang sesuatu dengan situasi. Suwandi (2008: 72) mengatakan, “Makna kontekstual adalah makna kata yang sesuai dengan konteksnya”. Salah satu kata yang terdapat dalam Mantra Pengobatan Desa Pangkalan Baru Kecamatan Siak Hulu Kabupaten Kampar adalah “kiakok”. Kata kiakok artinya yaitu anak sirih yang masih kecil baik yang memanjat di suatu pohon maupun yang menjalar di bawah. Namun dalam keseharian kata kiakok jarang digunakan lagi. Masyarakat cenderung menyebut anak sirih untuk menyatakan kata kiakok. Kata kiakok hanya dipakai dalam sebuah mantra. Penggunaan kata tersebut sesuai dengan konteks kalimatnya yaitu digunakan dalam sebuah mantra dan tidak dugunakan dalam bahasa sehari-hari. Kata kiakok terdapat dalam mantra ubek piamam pada baris kedua dalam kalimat kiakok tumbuh di batu.
4.   Analisis Syirik dalam Mantra Pengobatan Desa Pangkalan Baru Kecamatan Siak Hulu Kabupaten Kampar.
Teori yang digunakan sebagai acuan untuk menganalisis syirik dalam Mantra Pengobatan Desa Pangkalan Baru Kecamatan Siak Hulu Kabupaten Kampar yaitu sebagai berikut:
            Asy-Syahawi (2001: 109) mengatakan,
a.       Membaca azimat-azimat dan mantera-mantera yang bukan bahasa Arab dan artinya tidak dipahami. Hal itu termasuk kufur, musyrik, dan sesat, mengagungkan setan, menghambakan diri dan menyembah setan, serta melanggar ajaran Allah dan Rasul..... c. Mencampuradukkan ayat suci Al-Qur’an dengan kata-kata yang artinya tidak dipahami. Hal ini jelas mengandung kemusyrikan.

1.      Mantra ubek tekekolu mengandung unsur syirik yaitu:
      Pada mantra dapat dilihat diawal menggunakan ayat suci Al-Qur’an yaitu basmallah. Basmallah merupakan ayat suci Al-Qur’an yang biasa digunakan untuk mengawali perbuatan terpuji atau pembacaan Al-Qur’an. Apabila kata basmallah digunakan untuk memulai pemujaan terhadap makhluk gaib dan diikuti oleh kata-kata yang tidak dipahami dalam hal ini yaitu kata (panjau) maka hal ini termasuk pada perbuatan syirik. Hal ini sesuai dengan yang dikatakan oleh Asy-Syahawi bahwa salah satu hal yang dikatakan syirik adalah mencampuradukkan ayat suci Al-Qur’an dengan kata yang tidak dipahami, ayat Al-Qur’an itu dapat dilihat dari mantra Ubek Tekekolu yaitu basmallah dan laillahaillallah.

7.      Kesimpulan
Berdasarkan analisis mantra pengobatan di Desa Pangkalan Baru Kecamatan Siak Hulu Kabupaten Kampar dengan judul Analisis Makna dan Syirik dalam mantra pengobatan di Desa Pangkalan Baru Kecamatan Siak Hulu Kabupaten Kampar, maka penulis dapat menarik kesimpulan sebagai beikut:
1.  Makna leksikal dalam mantra pengobatan di Desa Pangkalan Baru Kecamatan Siak Hulu Kabupaten Kampar terdapat beberapa kata yang terdiri dari nomina, verba, adjektiva, partikel, pronomina, dan adverbia. Contoh kata yang bermakna leksikal nomina adalah tuku, pucuk, antu, dan sebagainya. Contoh kata makna leksikal verba ialah pulang, datang, tumbuh, dan sebagainya. Contoh kata makna leksikal adjektiva adalah tajam, tumpul, tinggi, dan sebagainya. Contoh makna leksikal pronomina ialah aku, engkau. Contoh makna leksikal edverbia ialah tak, paling. Contoh makna leksikal partikel ialah: berkat, kok, pado, dan sebagainya.
2.   Makna gramatikal pada pengobatan Desa Pangkalan Baru Kecamatan Siak Hulu Kabupaten Kampar hampir keseluruhan maknanya mengarah pada tujuan, pemberitahuan atau penjelasan. Namun ada juga sebagian kata yang tidak termasuk pada makna gramatikal. Contoh kata yang bermakna gramatikal ialah setakal, amo-amo, membuek, dan sebagainya.
3.   Kata yang termasuk pada makna kontekstual diantaranya panjau, sibiasau, simanyolai, dan sebagainya. Contoh kata yang bermakna leksikal, gramatikal dan kontekstual terdapat dalam mantra Obat Keteguran, Obat Muntah-Muntah, Obat Penghilang Grogi (gemu’u), Obat Gembung Mendadak, Obat Bisa Lipan, Obat Sampu.
4.  Mantra pengobatan di Desa Pangkalan Baru Kecamatan Siak Hulu Kabupaten Kampar mengandung unsur perbuatan syirik yang termasuk pada syirik besar karena Allah adalah perbuatan dosa besar. Keseluruhan mantra merupakan perbuatan syirik, hal ini dapat dilihat dari kata-kata yang digunakan dan ritual-ritual atau sesembahan yang dilakukan oleh dukun. Di dalam mantra sang dukun mencampuradukkan ayat suci Al-Qur’an dengan kata-kata yang tidak dipahami, atau kata-kata yang mengarah pada penyembahan makhluk gaib. Dalam mantra tersebut dukun meminta pertolongan kepada makhluk gaib itu, padahal kita tahu bahwa tidak ada tempat mengadu selain kepada Allah, karena Allah Maha Segalanya.